Ramah buat Keluarga, Jadi Momen Liburan Musim Panas

Rabu, 21 Januari 2015 | 10:04:15 WIB | Dibaca: 3020 Kali


Menikmati Grand Slam Paling Hot di Melbourne Park, Australia

 It"s party time in Melbourne. Sepekan menjelang national day (26/1) plus pergelaran Australian Open 2015, Melbourne Park, venue grand slam pembuka tahun ini, tidak ubahnya taman bermain yang menyajikan berbagai kemeriahan. Berikut laporan wartawan Jawa Pos RETNA CHRISTA yang sempat menyaksikan laga hari pertama Australia Terbuka kemarin saat berlibur di Negeri Kanguru.

 

 JANUARI memang menjadi bulan pesta bagi warga Australia, khususnya di Melbourne. Di sana, Australian Open yang rutin digelar di Melbourne Park sejak 1988 tidak pernah kehilangan magnet. Bahkan, antusiasme warga menyambut salah satu event tenis terbesar di dunia itu terasa sejak di gerbang pertama "memasuki" Australia.

 "Wah, kamu ke Melbourne untuk nonton tenis" Saya iri sekali! Saya suka banget Australian Open," ujar Erika Roberts, petugas imigrasi di terminal keberangkatan internasional di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysia, Minggu pagi (18/1). Dia berjaga di gate penerbangan ke Melbourne. Dia bertugas men-screening setiap penumpang yang hendak memasuki Australia, termasuk saya.

 "Bukan hanya pertandingannya. Tapi, atmosfer, semangat, dan kemeriahan yang ditawarkan juga benar-benar menyenangkan. Bikin kangen. Sayang, saya lagi bertugas di sini," sesal Erika setengah curcol.

 "Enjoy the game," ucapnya setelah memeriksa dokumen perjalanan saya.

 Begitu tiba di Bandara Melbourne Tullamarine, gempita event tahunan itu makin terasa. Di mana-mana terpasang logo Australian Open yang bergambar siluet petenis sedang servis. Entah dalam bentuk spanduk, stiker, maupun billboard. Bahkan, ada meeting point khusus yang disediakan bagi traveler yang ingin langsung menuju ke Melbourne Park. Sangat dimanjakan.

 Pada hari pertama babak utama Australian Open kemarin (19/1), Stasiun Richmond menjadi stasiun yang paling sibuk di Melbourne. Ribuan penggemar tenis berdatangan dari segala penjuru Australia menuju stasiun yang hanya berjarak tempuh 11 menit berjalan kaki dari Melbourne Park itu. Agar mereka makin mudah, ada petunjuk arah ke luar yang bertulisan Exit to Rod Laver Arena. Ya, turun sepur, langsung ke venue.

Benar saja, sejak gate dibuka pukul 10.00 waktu setempat, ribuan orang mengalir masuk. Setidaknya, dua venue utama Rod Laver Arena dan Margaret Court Arena langsung terisi separo. Ketika game dimulai sejam kemudian, tribun sudah terisi sekitar 60 persen. Rod Laver dibuka dengan pertandingan unggulan ketiga putri Simona Halep melawan Karin Knapp asal Italia. Mulai pukul 14.00, stadion langsung full. Maklum, pada pertandingan ketiga, Rod Laver menampilkan unggulan ketiga Rafael Nadal versus petenis non unggulan Mikhail Youzhny.

 Terlepas dari siapa pun yang bertanding, bagi warga Australia, grand slam adalah momen liburan bagi semua kalangan. Para orang tua membawa serta buah hati mereka. Anak-anak muda antusias datang ke lapangan. Orang-orang sepuh ikut pula bergembira ria. Tidak sedikit yang harus dituntun untuk menaiki tribun. Tapi, kecintaan pada event itu membuat mereka selalu bersemangat.

 "Saya sudah pernah nonton. Anak-anak juga pernah ke sini. Tapi, ini kali pertama kami bepergian sekeluarga," kata Sarah Hyland yang datang bersama suami, Tom, dan dua anaknya.

 "Saya dari Sydney. Jauh juga dari sini. Sekitar 9 jam berkendara. Tapi, saya senang karena bisa bareng-bareng nonton grand slam," imbuhnya.

 Anita Callisto memanfaatkan event tersebut untuk bonding time bareng keponakannya, Maria. Perempuan asli Filipina yang sudah menjadi permanent resident di Melbourne itu sebenarnya juga pernah menyaksikan Australian Open. Tapi, demi menjamu sang keponakan, dia dengan senang hati menonton lagi.

 "Kebetulan, dia sedang liburan Natal di Melbourne. Sekalian saja saya ajak nonton. I love tennis anyway," ujar Anita yang tempat tinggalnya tidak jauh dari Melbourne Park.

 "Saya suka Roger Federer dan Maria Sharapova. Tapi, kayaknya, Sharapova nggak bisa juara. Serena (Williams, Red) terlalu powerful," ungkapnya menganalisis.

 Di luar pertandingan-pertandingan superseru, Melbourne Park benar-benar menyuguhkan nuansa pesta. Liburan musim panas seolah berpindah ke kompleks olahraga yang dulu bernama Flinders Park tersebut. Kebetulan, sekolah-sekolah di Negara Bagian Victoria libur hingga akhir Januari nanti. Jadi, keluarga bisa leluasa menonton event tenis tahunan tersebut.

 Seluruh permukaan tanah di antara Rod Laver Arena, Margaret Court, dan Hisense Court ditutup portable flooring warna biru cerah sehingga terkesan lebih bersih dan empuk. Anak-anak yang bermain dan berlarian tidak khawatir bila jatuh.

 Kebijakan family friendly juga diberlakukan untuk makanan dan minuman. Konsumsi minuman beralkohol dibatasi di wilayah tertentu. Penjagaan pun tidak kaku, meski ketat. Kalau di tempat lain mungkin dilarang membawa makanan dari luar, di tempat itu boleh. Alhasil, tidak sedikit keluarga yang membawa bekal dari rumah.

 Di antara tiga venue utama tersebut, tersebar pula berbagai hiburan yang disiapkan sponsor. Semua bisa dinikmati siapa saja secara gratis. Misalnya, sebuah stasiun radio yang menjadi media partner menyediakan meja pingpong khusus untuk perempuan. Di sekitarnya, tersedia tempat duduk-duduk lengkap dengan payung. Tampak beberapa pengunjung perempuan sabar mengantre sambil menyemangati dua temannya yang sedang sparring bermain tenis meja.

 Salah satu maskapai penerbangan asal Timur Tengah menyediakan game lucu plus gimmick menggiurkan. Dengan menggunakan raket tenis, pemain diminta memukul sasaran berupa lampu-lampu LED di lantai. Mirip permainan whack a mole. Simpel banget. Padahal, hadiahnya besar: pemenang dijanjikan menonton seri grand slam berikutnya, yakni French Open di Roland Garros!

 Ada pula booth sponsor yang menyediakan permainan tenis virtual. Sebuah bank yang menjadi sponsor utama bahkan memberikan experience ala Keith Urban di sebuah tenda raksasa. Pengunjung seolah tampil di depan crowd dan memainkan gitar dengan aksi layaknya Keith Urban sedang konser.

 Di sisi lain, ada tenda face painting, kedai es krim, serta belasan jenis fast food yang mengeluarkan aroma lezat. Pada hari pertama kemarin, sepanjang siang, tidak ada booth yang kosong. Semua harus antre untuk mendapat setiap experience yang ditawarkan.

 Tapi, yang paling seru adalah fans zone besar yang didirikan sebuah sponsor minuman beralkohol. Fans zone itu mengambil tempat di lapangan rumput. Di ujungnya berdiri sebuah panggung yang memainkan musik sejak pukul 16.00.

 Para pengunjung yang bosan nonton di dalam stadion bisa menghabiskan waktu di tempat tersebut. Mereka menggelar kain pantai di depan panggung, lalu berpiknik. Menikmati jajanan sambil berjemur, ngobrol, dan menikmati musik. Dengan outfit rata-rata berupa tank top serta hot pants atau sundress beraneka warna dan motif, mereka berdansa di depan panggung.

 Pada pukul 16.00, performer-nya adalah sebuah band lokal yang meng-cover lagu-lagu top 40. Selanjutnya, pukul 17.00, yang tampil adalah artis nasional Australia. Tiap hari berganti-ganti. Konser perdana kemarin diisi penyanyi imut Megan Washington. Orangnya imut dan manis, tapi alirannya rock alternative.

 "Hari ini masih enak, tidak terlalu panas. Tapi, cukup hangat," ujar Stevana, penonton perempuan yang ikut dansa di depan panggung. Dia mengenakan dress selutut kuning neon dengan tali spageti. Cocok dengan suhu hari itu 20"25 derajat Celsius.

 "Tunggu saja seminggu atau 10 hari ke depan. Saat itulah Australian Open benar-benar hot dalam arti sebenarnya," ujarnya.

 Di fans zone itu juga dipasang dua giant screen. Yang di sisi dekat panggung menyiarkan pertandingan dari Rod Laver Arena, sedangkan sisi yang berseberangan menayangkan game di Margaret Court. Kalau di depan panggung pengunjung bisa lesehan, di depan giant screen itu tersedia sekitar 100 kursi malas dan 20 bean chair ungu yang empuk. Banyak pilihan untuk nobar (nonton bareng).

 Alan Gray, staff supervisor yang bertugas di sekitar gate, menyatakan, Melbourne Park selalu seramai itu setiap grand slam digelar. Terlebih pada hari pertama kemarin Rod Laver Arena langsung menyuguhkan Rafael Nadal saat siang dan Roger Federer saat malam. Plus, dua petenis cewek cantik Ana Ivanovic (yang sedihnya langsung tersingkir) dan Maria Sharapova.

 "Estimasi saya sih sekitar 45 ribu orang nonton hari ini. Itu taksiran minimal. Bisa lebih," kata Gray.

 "Asumsinya, tiga court utama full booked. Rod Laver yang berkapasitas 14 ribu, Hisense sekitar 10.500, dan Margaret Court 7.500, semua penuh. Belum lagi lapangan-lapangan lain. Hari ini saja ada puluhan pertandingan," ucapnya.

 Gray menambahkan, warga Australia memang sangat bangga dengan event tersebut. Itu adalah satu-satunya grand slam yang digeber di Asia-Pasifik dan selalu menjadi jujukan turis dari berbagai negara sekitar.

 "Ini semacam kekayaan kami. Total jumlah penonton tiap tahun memang fluktuatif. Tapi, semangat dan kebanggaan Australia memeriahkan event ini tidak pernah berkurang," tegas pria 34 tahun tersebut.

(*/c5/ari)