Santri Wajib Kendalikan Teknologi

Senin, 23 Oktober 2017 | 10:56:31 WIB | Dibaca: 728 Kali


Apel Hari Santri, Pemerintah Minta Santri Jaga Generasi Bangsa

JAKARTA - Santri punya andil besar dalam memerdekakan Indonesia. Kini, peran serupa diharapkan negara.Bukan melawan penjajah tentunya, melainkan efek buruk perkembangan teknologi informasi.

Harapan itu digaungkan pemerintah dalam apel peringatan Hari Santri 2017 di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, kemarin (22/10). Hari Santri diharapkan bisa memperteguh tekad santri untuk ikut bertanggung jawab atas nasib bangsa.

”Santri memegang peran penting dalam memastikan Indonesia tetap menjadi bangsa yang memegang teguh agama,” kata  Menag Lukman Hakim Saifuddin. ”Tentunya agama yang menyebarkan kedamaian dan kerukunan bagi sesama, agama  yang betul-betul menyejahterakan kita semua,’’ lanjutnya.

Itulah alasan utama pemerintah menetapkan 22 Oktober sebagai hari santri. Tentunya, tanggung jawab santri pada masa terdahulu berbeda dengan sekarang. Saat ini, santri dihadapkan pada tanggung jawab menjaga generasi bangsa dari pengaruh buruk teknologi.

Lukman menuturkan, saat ini, suka tidak suka, masyarakat sudah menjadi umat digital. ’’Karenanya, santri juga dituntut kemampuannya untuk mampu berinteraksi dengan baik dengan dunia digital,’’ lanjut putra mantan Menag Saifuddin Zuhri itu. Bahkan, santri saat ini dituntut mampu berdakwah dengan baik memalui sarana digital.

Apel hari santri nasional kemarin diawali dengan kumandang selawat oleh Banser dan ratusan santri, menyambut kedatangan ketua PBNU KH Said Aqil Siraj. Kasum TNI Laksamana Madya Didit Hendriawan bertindak sebagai inspektur apel, mengenakan seragam TNI AL. selain selawat, para peserta apel juga melantunkan mars Ya lal Wathon.

Said Aqil mengakui, ada tanggung jawab yang tidak kecil bagi santri saat ini. Khususnya, untuk mencegah penyalahgunaan teknologi. ’’Kami sudah mulai mengadakan pelatihan-pelatihan jurnalistik dan penggunaan internet bagi kader-kader Nahdatul Ulama,’’ terangnya. Para santri NU tersebut diharapkan bisa terlibat dalam perang melawan informasi-informasi hoax di dunia maya.

Sekaligus, menjadi pendakwah yang baik di dunia maya dengan menyebarkan ajaran Islam yang moderat. ’’Membangun ummatan wasathan. Artinya Islam yang anti radikalisme dan liberalisme,’’ lanjutnya. Umat yang moderat itulah, menurut Said Aqil, yang dipeintahkan Allah untuk dibangun oleh Nabi Muhammad.

Sebelumnya, dalam kunjungan ke Ponpes Darul Arqam di Garus Selasa (17/10) lalu, Presiden Joko Widodo juga mengingatkan soal tanggung jawab santri dan pesantren tersebut. Menurut Presiden, informasi hoax dan fitnah harus bisa disaring agar tidak berdampak pada generasi muda. ’’Siapa yang akan menyaring? Ya pembangunan karakter melalui santri-santri kita,’’ ujar Jokowi.

(byu)